Takengon – Pacuan kuda tradisional Gayo di Lapangan Musara Alun yang selama ini dikenal sebagai pesta rakyat, kini berubah wajah. Alih-alih menjadi ajang budaya yang merangkul semua kalangan, penyelenggaraan tahun ini justru dipenuhi praktik komersialisasi yang mencederai semangat tradisi.
Pantauan di lokasi, pengunjung dipaksa membayar karcis parkir resmi Rp20.000 untuk setiap kendaraan roda empat. Karcis berwarna hijau itu bahkan mencantumkan batas waktu hingga pukul 18.00 WIB. Kebijakan ini sontak memicu keluhan keras masyarakat.
Padahal, pemerintah daerah setiap tahunnya sudah mengucurkan anggaran dari uang rakyat untuk mendukung pacuan kuda sebagai warisan budaya. Ironisnya, masyarakat tetap dibebani biaya tambahan yang tidak masuk akal.
“Pacuan kuda ini katanya pesta rakyat, tapi kenyataannya rakyat malah diperas. Kalau terus begini, jangan salahkan kalau pengunjung makin berkurang,” sindir pengunjung.
Warga mempertanyakan transparansi pengelolaan dana parkir dan menuding penyelenggaraan pacuan kuda kini lebih berorientasi pada keuntungan segelintir pihak, bukan lagi menjaga marwah tradisi.
Mereka mendesak agar pemerintah daerah turun tangan menghentikan praktik komersialisasi yang merugikan masyarakat dan mengembalikan pacuan kuda sebagai identitas budaya Gayo, bukan ladang bisnis terselubung.