Aceh Aceh Tengah Gayo
Beranda / Gayo / AI Ubah Dunia Pendidikan, Mahasiswa Unsyiah Soroti Manfaat dan Tantangannya

AI Ubah Dunia Pendidikan, Mahasiswa Unsyiah Soroti Manfaat dan Tantangannya

Share

Banda Aceh – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi dunia pendidikan di Indonesia. Kehadiran berbagai platform berbasis AI dinilai mampu membantu siswa dan mahasiswa dalam proses belajar, namun di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan berpikir kritis generasi muda.  

Hal tersebut menjadi sorotan dalam sebuah tulisan yang disusun oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Syiah Kuala, Mudahdi Niko. Dalam tulisannya, ia menjelaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan pendidikan.  

Menurutnya, berbagai teknologi seperti ChatGPT, Google Translate, Grammarly, hingga fitur AI pada platform desain digital telah banyak digunakan untuk membantu mengerjakan tugas, memahami materi pelajaran, menerjemahkan bahasa asing, hingga membuat presentasi secara lebih cepat dan efisien.  

Di sisi lain, penggunaan AI yang semakin masif juga memunculkan sejumlah tantangan. Banyak siswa dan mahasiswa mulai menggunakan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materi secara mendalam. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta memicu persoalan etika akademik.  

Tulisan tersebut juga menyoroti semakin sulitnya membedakan karya asli dengan tulisan yang dihasilkan AI. Bahkan dalam beberapa kasus, penggunaan AI secara berlebihan dianggap berpotensi menjadi bentuk baru plagiarisme di lingkungan pendidikan.  

Dua Lansia yang Dilaporkan Hilang di Lapangan Pacuan Kuda Takengon Telah Ditemukan

Meski demikian, AI juga dinilai memiliki peluang besar dalam membantu pemerataan pendidikan di Indonesia. Teknologi ini dapat mempermudah akses informasi dan pembelajaran, terutama bagi siswa yang berada di daerah terpencil dan memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar.  

Karena itu, penulis menilai penggunaan AI harus disertai dengan literasi digital yang baik serta pengawasan dari pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir dan usaha manusia.  

“Pada akhirnya, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Masa depan pendidikan Indonesia akan ditentukan bukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi oleh kebijaksanaan manusia dalam memanfaatkannya,” tulis penulis dalam artikelnya.