Feb 21, 2026
Share

Takengon – Sudah 86 hari sejak musibah longsor yang terjadi pada 26 November lalu, namun nasib Fazrul Fala tak kunjung mendapat kepastian. Rumahnya hilang ditelan tanah bersama 12 rumah warga lainnya, tetapi namanya tidak tercantum dalam data penerima bantuan jatah hidup (jadup) untuk wilayah Pegasing.

Fazrul, yang kini tinggal sementara di sebuah kantin sekolah bersama istrinya yang tengah hamil besar, mengaku kecewa karena hingga kini belum menerima bantuan sebagaimana korban lainnya.

“Data jadup untuk daerah Pegasing sudah keluar, bang. Tapi nama kami tidak terdata, padahal rumah kami hilang total. Ada beberapa orang yang bukan korban justru menerima,” ujar Fazrul dengan nada sedih.

Ia menuturkan, saat longsor terjadi, tak satu pun barang berhasil diselamatkan. Rumah yang menjadi tempat berteduh dan membangun mimpi bersama sang istri rata tertimbun tanah. Mereka hanya bisa menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan.

Kini, di tengah penantian kelahiran buah hati mereka, Fazrul berharap ada perhatian dan peninjauan ulang terhadap data penerima bantuan. Baginya, bantuan tersebut sangat berarti untuk bertahan hidup dan memulai kembali dari nol.

Sejumlah warga terdampak lainnya juga dikabarkan mengalami hal serupa, belum masuk dalam pendataan meski terdampak langsung oleh bencana. Warga berharap pemerintah terkait dapat segera melakukan verifikasi ulang agar bantuan benar-benar tepat sasaran.