TAKENGON — Hanya dalam 11 hari, suasana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon mulai terasa berbeda.
Sejak Bupati Aceh Tengah Haili Yoga memilih berkantor dari RSUD Datu Beru, perubahan perlahan terlihat di berbagai sudut rumah sakit. Bukan hanya soal aktivitas pemerintahan, tetapi juga menyentuh kebersihan, kedisiplinan, pelayanan hingga suasana keagamaan.
Kamis, 9 Juli menjadi awalnya.
Di tengah dinginnya pagi Kota Takengon, suara azan Subuh terdengar dari lingkungan rumah sakit. Pemberitahuan untuk melaksanakan sholat juga mulai disampaikan kepada pasien dan keluarga pasien.
Para perawat di ruangan turut mengingatkan pasien maupun keluarga pasien untuk menunaikan ibadah.
Hal yang sebelumnya tidak menjadi kebiasaan di lingkungan rumah sakit tersebut.
Pagi hari setelah matahari mulai terbit, aktivitas lainnya pun terlihat. Petugas keamanan mulai lebih aktif berkeliling memastikan lingkungan rumah sakit tetap aman dan tertib, termasuk mengingatkan agar tidak ada yang merokok di kawasan rumah sakit.
Perubahan juga terlihat dari dapur.
Kesibukan menyiapkan makanan pasien mulai tampak sejak pagi. Makanan dikemas dengan lebih rapi dan bersih sebelum dibagikan kepada pasien.
Sementara itu, sudut-sudut taman yang sebelumnya kerap ditemukan puntung rokok kini mulai berubah.
Bunga-bunga yang sebelumnya terlihat kurang terawat mulai kembali segar. Bahkan, beberapa di antaranya mulai bermekaran.
Perubahan tersebut menjadi pemandangan baru bagi pasien, keluarga pasien maupun pengunjung yang datang ke RSUD Datu Beru.
Selama 11 hari berkantor di rumah sakit, Bupati Haili Yoga juga lebih sering berada di RSUD pada pagi hingga sore hari.
Kehadirannya tidak hanya untuk menjalankan aktivitas pemerintahan, tetapi sekaligus melihat langsung kondisi rumah sakit dan berinteraksi dengan pasien maupun keluarga pasien.
Bahkan pada waktu sholat, Bupati turut melaksanakan sholat berjamaah di masjid rumah sakit bersama keluarga pasien dan masyarakat yang berada di lingkungan RSUD Datu Beru.
Dari sana, berbagai perubahan kecil mulai muncul dan kemudian menjadi kebiasaan baru.
Dari suara azan yang menggema di waktu Subuh, petugas keamanan yang lebih aktif, lingkungan bebas rokok, dapur yang lebih tertata, hingga taman yang kembali dihiasi bunga.
11 hari mungkin terbilang singkat. Namun di RSUD Datu Beru, 11 hari itu cukup untuk membuat wajah rumah sakit terlihat berbeda.
Perubahan tersebut tentu bukan hanya tentang siapa yang berkantor di dalam rumah sakit, tetapi bagaimana kehadiran pimpinan daerah mendorong seluruh unsur di dalamnya untuk melihat kembali hal-hal sederhana yang selama ini mungkin terabaikan.
Karena bagi pasien dan keluarganya, rumah sakit bukan hanya tempat mendapatkan pengobatan.
Tetapi juga tempat mencari kenyamanan, ketenangan dan harapan untuk kembali pulang dalam keadaan lebih baik.

