Takengon – Pembangunan jembatan Bailey di Kecamatan Linge dan Ketol, Aceh Tengah, akhirnya mulai menunjukkan kepastian. Jembatan Kala Ili di Linge dan Jembatan Bergang di Ketol ditargetkan selesai dalam waktu 20 hari setelah pekerjaan dimulai.
Pembangunan jembatan Bailey Linge dan Ketol ini direncanakan menggunakan material yang didatangkan dari Medan melalui Pelabuhan Belawan. Material akan diangkut menggunakan enam unit truk menuju lokasi pembangunan, sebagai bagian dari percepatan pemulihan akses warga yang sempat terputus.
Sebelumnya, jembatan darurat yang digunakan warga hanya bersifat sementara dan dinilai tidak aman. Kondisinya rawan rusak, terutama saat debit air meningkat. Situasi ini membuat aktivitas masyarakat terganggu, bahkan sudah berlangsung hampir empat bulan pasca bencana.
Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Pijas Visara, menyebut pembangunan jembatan Bailey di Kala Ili akan dikerjakan bersama pihak Zidam Iskandar Muda Aceh. Target penyelesaian selama 20 hari pun disampaikan sebagai upaya mempercepat pemulihan akses transportasi warga.
Namun di lapangan, masyarakat masih menyimpan keraguan. Pasalnya, berbagai janji perbaikan infrastruktur pasca bencana sebelumnya kerap berjalan lambat dan tidak sesuai target. Warga berharap pembangunan jembatan Bailey Linge dan Ketol ini benar-benar selesai tepat waktu, bukan sekadar rencana di atas kertas.
Jika target ini kembali meleset, dampaknya tidak kecil. Akses ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas warga akan terus terganggu. Kini, perhatian publik tertuju pada realisasi pembangunan jembatan Bailey tersebut, apakah benar bisa rampung dalam 20 hari atau kembali molor seperti sebelumnya.
